Kairo–Beirut, 31 Mei 2026 — Pemerintah Mesir secara tegas mendesak Israel untuk segera mundur dari Kastil Beaufort di Lebanon Selatan, setelah pasukan Israel dilaporkan merebut wilayah bersejarah tersebut dalam operasi militer terbaru.
Kastil Beaufort, benteng kuno yang memiliki nilai strategis di perbatasan Lebanon–Israel, kembali menjadi titik panas konflik. Israel mengklaim penguasaan atas kastil sebagai bagian dari operasi pertahanan terhadap serangan Hizbullah. Namun, langkah ini memicu kecaman internasional, terutama dari Mesir yang menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon.
Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan bahwa keberadaan militer Israel di Kastil Beaufort berpotensi memperburuk ketegangan regional. “Israel harus segera menarik pasukannya dan menghormati integritas teritorial Lebanon,” tegas pernyataan resmi. Mesir juga menyerukan agar Dewan Keamanan PBB turun tangan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pemerintah Lebanon menyambut dukungan Mesir, menyebut langkah Israel sebagai agresi yang melanggar hukum internasional. Hizbullah, yang memiliki basis kuat di wilayah selatan, berjanji akan melancarkan perlawanan jika Israel tidak segera mundur.
Kastil Beaufort bukan hanya situs bersejarah, tetapi juga simbol perlawanan Lebanon terhadap pendudukan Israel sejak era 1980-an. Perebutan kembali kastil oleh Israel dianggap sebagai provokasi yang bisa memicu konflik berskala lebih besar di Timur Tengah. Dukungan Mesir terhadap Lebanon menunjukkan solidaritas Arab sekaligus upaya menjaga stabilitas kawasan.
Desakan Mesir agar Israel mundur dari Kastil Beaufort menambah tekanan diplomatik terhadap Tel Aviv. Dunia kini menanti apakah Israel akan merespons tuntutan tersebut, atau justru memperkuat posisinya di wilayah strategis yang sarat makna sejarah dan politik itu.

