Washington–Havana, 30 Mei 2026 — Dunia politik Amerika Latin kembali diguncang oleh pernyataan mengejutkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam pidato yang disampaikan di Gedung Putih, Trump menyatakan niat untuk “menghidupkan kembali Revolusi Kuba”, sebuah langkah yang langsung memicu kontroversi luas di kawasan.
Trump menyebut Revolusi Kuba yang dipimpin Fidel Castro pada 1959 sebagai “gerakan yang belum selesai” dan menilai Amerika Serikat harus mengambil peran dalam membentuk ulang arah politik di Havana. Pernyataan ini dianggap paradoksal, mengingat Revolusi Kuba selama ini identik dengan perlawanan terhadap dominasi AS.
Di Havana, pemerintah Kuba bereaksi keras. Mereka menilai ucapan Trump sebagai bentuk intervensi terhadap kedaulatan negara dan mengingatkan bahwa Revolusi Kuba adalah simbol perjuangan rakyat yang tidak bisa diganggu gugat. Dukungan terhadap sikap Kuba datang dari Venezuela dan Nikaragua, yang menilai langkah Trump sebagai upaya menghidupkan kembali politik era Perang Dingin.
Sementara itu, beberapa negara lain di Amerika Latin seperti Kolombia dan Brasil mengambil posisi lebih hati-hati. Mereka melihat peluang diplomasi baru, tetapi tetap mengingatkan agar AS tidak melanggar prinsip non-intervensi.
Di dalam negeri, pernyataan Trump memicu perdebatan sengit di Kongres. Sebagian anggota Partai Republik mendukung ide tersebut sebagai strategi memperkuat pengaruh AS di Karibia. Namun, Partai Demokrat menilai langkah itu berbahaya dan berpotensi memperburuk hubungan dengan negara-negara Amerika Latin.
Kontroversi ini menambah daftar panjang kebijakan luar negeri Trump yang menuai kritik internasional. Bagi Amerika Latin, isu Revolusi Kuba bukan sekadar sejarah, melainkan simbol kedaulatan yang tidak bisa diintervensi. Dunia kini menunggu apakah pernyataan Trump hanya retorika politik, atau benar-benar akan diwujudkan dalam langkah nyata.

