Rupiah Kembali Tertekan terhadap Dolar AS, Ditutup di Level Rp 17.420 per USD

Jakarta, 11 Mei 2026 — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026). Rupiah ditutup di kisaran Rp17.420 per dolar AS, melemah dibanding perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.315 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya tekanan global akibat penguatan dolar AS, arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang, serta ketidakpastian geopolitik internasional.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah sempat bergerak di rentang Rp17.380 hingga Rp17.450 per dolar AS sepanjang hari. Tekanan jual terhadap aset berisiko membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke instrumen berbasis dolar yang dianggap lebih aman.

“Dolar AS kembali menguat karena pasar masih mengantisipasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed dalam jangka waktu lebih lama,” ujar analis pasar uang di Jakarta.

Selain sentimen global, pasar domestik juga dipengaruhi aksi jual investor asing di Bursa Efek Indonesia setelah proses rebalancing indeks MSCI. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya permintaan dolar AS untuk kebutuhan repatriasi modal.

Tekanan terhadap rupiah semakin terasa seiring kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dinilai rentan terhadap lonjakan harga energi global.

Bank Indonesia (BI) disebut terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak mengalami pelemahan yang terlalu tajam.

Meski demikian, BI menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dengan inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi stabil, serta cadangan devisa yang memadai untuk menjaga ketahanan sektor keuangan nasional.

Pengamat ekonomi menilai level rupiah saat ini masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan, meskipun pelaku pasar tetap diminta mewaspadai volatilitas global.

“Pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibanding kondisi ekonomi domestik,” kata seorang ekonom senior.

Pelemahan rupiah mulai berdampak pada sejumlah sektor usaha, terutama industri yang bergantung pada impor bahan baku dan pembayaran utang dalam dolar AS. Selain itu, masyarakat juga mulai mencermati potensi kenaikan harga barang impor dan biaya perjalanan luar negeri.

Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan lanjutan Bank Indonesia dan perkembangan suku bunga bank sentral AS sebagai faktor utama penentu pergerakan rupiah dalam beberapa pekan mendatang.

Scroll to Top