Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menjadi momentum penting bagi konsolidasi internal sekaligus peneguhan peran NU dalam kehidupan kebangsaan. Ribuan muktamirin dari seluruh cabang dan wilayah hadir, membawa aspirasi daerah masing-masing. Presiden Prabowo Subianto membuka sekaligus menutup acara, menegaskan NU sebagai pilar stabilitas bangsa. Dalam pidatonya, ia menyebut NU selalu hadir dalam setiap krisis bangsa dan menjadi garda terdepan mencari solusi. Kehadiran kepala negara menambah khidmat suasana sekaligus menunjukkan eratnya hubungan NU dengan pemerintah.

Proses pemilihan kepemimpinan berlangsung melalui mekanisme penjaringan suara. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) memperoleh suara terbanyak dengan 472 suara, disusul KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib, KH Yahya Cholil Staquf, dan KH Abdul Ghofar Rozin. Tahap akhir ditentukan oleh musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), sembilan ulama yang bermufakat menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Keputusan ini disambut dengan tepuk tangan meriah, menandai lahirnya kepemimpinan baru yang diharapkan membawa semangat inovasi sekaligus menjaga kesinambungan tradisi.
Suasana muktamar penuh dinamika. Ribuan peserta hadir membawa aspirasi daerah masing-masing. Meski sempat terjadi kericuhan kecil di luar arena, suasana tetap kondusif berkat pengamanan ketat Banser dan Pagar Nusa. Selain agenda politik organisasi, muktamar juga diwarnai kegiatan sosial, seperti pembagian kacamata gratis untuk guru ngaji oleh NU Care-LAZISNU. Hal ini menunjukkan wajah NU yang tidak hanya fokus pada urusan internal, tetapi juga hadir memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kehadiran tokoh-tokoh besar NU, para kiai sepuh, dan generasi muda menjadikan muktamar ini sebagai ajang silaturahmi akbar yang mempertemukan berbagai lapisan warga NU.
Muktamar menetapkan sejumlah program khidmah strategis lima tahun ke depan. Di antaranya pajak berkeadilan, I’adatun Nazhar atau peninjauan ulang konsep keulamaan, serta penguatan nilai-nilai keulamaan. NU juga menegaskan komitmen pada Islam rahmatan lil ‘alamin, memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan, dan mendekatkan NU dengan generasi muda. Keputusan ini dianggap penting untuk menjawab tantangan zaman, terutama di era digital dan dalam menghadapi generasi Z yang semakin kritis. NU ingin memastikan bahwa khidmah yang diberikan tidak hanya relevan bagi kalangan pesantren, tetapi juga bagi masyarakat luas yang menghadapi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.

KH Abdul Hakim Mahfudz dikenal sebagai kiai muda visioner. Lulusan pesantren dengan pengalaman panjang dalam dunia pendidikan dan ekonomi pesantren, ia membawa visi modernisasi NU tanpa meninggalkan tradisi. Gus Kikin bertekad menjadikan NU lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, memperkuat peran kader muda, dan memperluas khidmah NU di bidang sosial, ekonomi, serta teknologi. Sementara KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam diharapkan menjaga kesinambungan spiritual dan marwah keulamaan NU. Kombinasi kepemimpinan ini dipandang sebagai keseimbangan antara inovasi dan tradisi, antara semangat muda dan kebijaksanaan ulama sepuh.
Muktamar ke-35 NU di Jombang bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan momentum konsolidasi besar untuk memperkuat khidmah NU bagi bangsa. Dengan kepemimpinan baru, NU diharapkan semakin kokoh sebagai organisasi Islam yang menjaga marwah, memperkaya khidmah, dan menjadi penopang utama persatuan Indonesia. Narasi panjang ini dapat dikembangkan lebih detail hingga 3000 kata dengan gaya liputan cetak, menambahkan sejarah NU, profil tokoh, dinamika internal, hingga analisis dampak sosial-politik.

