Garut, 21 Juni 2026 – Hujan deras yang mengguyur kawasan selatan Kabupaten Garut sejak Sabtu malam memicu longsor besar di Kecamatan Cisewu. Material tanah bercampur batu dan pepohonan meluncur deras dari perbukitan, menimbun permukiman warga serta menutup akses jalan utama.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 22.30 WIB. Warga yang tengah beristirahat tidak sempat menyelamatkan diri. Sedikitnya 17 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya luka-luka. Tim SAR masih terus melakukan pencarian karena dikhawatirkan ada korban yang tertimbun.
BNPB dan Basarnas langsung mengerahkan tim penyelamat sejak dini hari. Posko pengungsian didirikan di balai desa dan sekolah terdekat untuk menampung ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal. Bantuan darurat berupa makanan, selimut, dan obat-obatan mulai disalurkan. Alat berat diturunkan untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor.
Kepala BNPB menyatakan: “Prioritas utama saat ini adalah evakuasi korban dan pemulihan akses jalan. Kami juga menyiapkan bantuan logistik untuk warga terdampak.” Sejumlah warga mengaku trauma dengan kejadian ini. “Kami tidak sempat lari, tiba-tiba tanah turun dengan suara gemuruh. Rumah tetangga saya langsung hilang tertimbun,” ujar seorang saksi mata. Banyak keluarga kini terpisah, menunggu kabar anggota yang belum ditemukan.
BMKG menjelaskan bahwa intensitas hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir meningkatkan risiko longsor. Kondisi tanah yang labil dan lereng curam memperparah dampak bencana. Pihak BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada karena potensi hujan lebat masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Tragedi longsor di Cisewu, Garut, menjadi pengingat betapa rentannya wilayah pegunungan terhadap bencana alam. Selain menelan korban jiwa, peristiwa ini menimbulkan luka sosial yang mendalam bagi masyarakat setempat. Pemerintah pusat dan daerah kini dituntut untuk mempercepat penanganan darurat sekaligus menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

