Gotong Royong, Inti Pancasila yang Kembali Digaungkan MPR RI

Wonogiri – 13 September 2026. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) kembali menegaskan komitmennya dalamMajelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) kembali menegaskan komitmennya menjaga nilai-nilai kebangsaan melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Acara ini menghadirkan Ir. Bambang Wuryanto, MBA, Anggota MPR RI, sebagai narasumber utama dan berlangsung dengan penuh antusiasme, dihadiri tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, serta perwakilan organisasi lokal. Forum tersebut menjadi wadah refleksi bersama tentang pentingnya menghidupkan kembali nilai kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi, polarisasi politik, dan informasi digital yang semakin kompleks.

Dalam sambutannya, Bambang Wuryanto menekankan bahwa Empat Pilar MPR RI—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—bukan sekadar dokumen normatif, melainkan pedoman praktis dalam kehidupan berbangsa. Pilar-pilar ini disebutnya sebagai jangkar moral yang menjaga arah perjalanan bangsa. Materi utama yang dikupas secara mendalam adalah Pancasila 1 Juni 1945, pidato monumental Bung Karno di sidang BPUPKI. Bambang menegaskan bahwa memahami pidato Bung Karno bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menggali nilai filosofis yang relevan untuk menjawab tantangan bangsa saat ini.

Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, yang kemudian dikenal sebagai Lahirnya Pancasila, lahir dari kebutuhan mendesak bangsa Indonesia yang beragam untuk memiliki dasar negara yang inklusif. Bung Karno menawarkan lima prinsip dasar: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, serta Ketuhanan yang Berkebudayaan. Ia bahkan menyarankan agar kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Tri Sila, yakni Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan, yang kemudian bisa diperas lagi menjadi Eka Sila: Gotong Royong. Menurut Bung Karno, gotong royong adalah inti dari Pancasila karena mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas bangsa.

Relevansi pidato Bung Karno tetap terasa hingga kini. Di tengah polarisasi politik, sila Persatuan Indonesia menjadi penangkal perpecahan. Di era digital, sila Kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi pedoman agar masyarakat bijak dalam bermedia. Dalam menghadapi ketimpangan ekonomi, sila Keadilan Sosial menuntut negara hadir melindungi rakyat kecil. Sementara dalam konteks keberagaman agama, sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan pentingnya toleransi.

Kegiatan sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali bahwa Pancasila adalah warisan luhur yang harus terus dihidupkan lintas generasi. Dengan memahami dan mengamalkan Pancasila, bangsa Indonesia diyakini akan tetap kokoh menghadapi segala tantangan zaman.

Scroll to Top