Houthi Serang Kota Riyadh & Fasilitas Aramco

RIYADH – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis menyusul gelombang serangan udara besar-besaran yang diluncurkan oleh kelompok Houthi (Gerakan Ansar Allah) asal Yaman. Jantung perekonomian dan infrastruktur strategis Arab Saudi, termasuk Ibu Kota Riyadh serta kilang minyak milik raksasa energi Saudi Aramco, menjadi target utama operasi militer lintas batas ini. Rangkaian serangan udara ini memicu kepanikan massal serta ancaman serius terhadap rantai pasok energi global dan stabilitas penerbangan internasional.

Kronologi dan Data Parameter Serangan. Berdasarkan pernyataan resmi Juru Bicara Militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, operasi ini diluncurkan menggunakan taktik kombinasi senjata canggih dalam volume besar. Houthi mengerahkan puluhan rudal balistik, rudal jelajah, serta kawanan pesawat nirawak (drone) bersenjata untuk menembus pertahanan udara Arab Saudi. Serangan menyasar sejumlah titik vital dalam beberapa gelombang operasional terpisah:

  1. Fasilitas Aramco Riyadh & Khurais: Gelombang serangan menghantam fasilitas pemrosesan minyak Aramco yang terletak di sebelah selatan Riyadh serta wilayah Khurais—salah satu ladang minyak utama Saudi. Kantor berita AFP melaporkan kepulan asap hitam pekat dan kobaran api membubung tinggi dari area kilang akibat hantaman rudal.
  2. Bandara Internasional King Khalid (Riyadh): Rudal jelajah dan drone Houthi diarahkan ke bandara utama ibu kota, memicu ledakan keras yang mengganggu jadwal dan aktivitas penerbangan sipil internasional secara signifikan.
  3. Kilang Minyak Rabigh & Jeddah: Selain wilayah ibu kota, Houthi juga memperluas target dengan menggempur kilang minyak Aramco di Rabigh (wilayah Makkah) serta fasilitas penampungan bahan bakar di Jeddah.
  4. Target Wilayah Selatan: Operasi gabungan ini turut membombardir Bandara Abha, Pangkalan Udara Khamis Mushait, Kamp Aqifa di Asir, serta situs militer sipil di Najran dan Jizan.

Dampak Konflik dan Operasi Balasan Koalisi. Konflik terbuka yang kembali memanas sejak Houthi berhasil merebut seluruh pesisir Laut Merah Yaman serta menguasai Selat Bab al-Mandab ini telah memicu krisis kemanusiaan baru. PBB melaporkan pertempuran aktif ini telah memaksa lebih dari 184.000 warga kehilangan tempat tinggal.

Merespons gempuran tersebut, Koalisi Militer pimpinan Arab Saudi langsung meluncurkan serangan balasan presisi (retaliatory strikes) menggunakan jet tempur dan artileri. Koalisi mengklaim telah menggempur basis pertahanan Houthi di sepanjang pantai Laut Merah, menewaskan atau melukai setidaknya 260 pejuang Houthi, serta menghancurkan 44 kendaraan militer dalam operasi taktis tersebut. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam keras tindakan Houthi yang secara sengaja menargetkan objek ekonomi sipil. Riyadh mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah tegas guna meredam agresi militer yang berpotensi memicu krisis energi dunia.

Scroll to Top