Lampung, 9 September 2026 – Gunung Anak Krakatau kembali memuntahkan amarahnya. Selasa malam pukul 23.07 WIB, dentuman keras mengguncang Selat Sunda. PVMBG mencatat erupsi menerus disertai semburan lava pijar menyerupai lava fountain. Kolom abu membumbung ribuan meter, cahaya merah menyala terlihat jelas dari pesisir Banten dan Lampung. Getaran kecil dirasakan warga Pulau Sebesi, Kalianda, hingga Anyer.
Di tengah kepanikan warga, kabar mengejutkan datang dari dunia pers. Seorang jurnalis lokal yang tengah meliput aktivitas Anak Krakatau dilaporkan hilang kontak. Ia terakhir kali mengirim pesan singkat kepada redaksi pada 8 September 2026 pukul 23.15 WIB, hanya beberapa menit setelah letusan pertama. Dalam pesannya ia menuliskan bahwa suara gemuruh terdengar berulang, abu mulai menutupi perahu yang ditumpanginya, dan kondisi laut semakin gelap. Setelah itu, komunikasi terputus total.
Rekan-rekan seprofesi menyebut jurnalis tersebut dikenal berani dan sering meliput bencana alam. Malam itu ia berangkat bersama tim kecil menggunakan kapal nelayan dari pesisir Kalianda, berniat mengambil gambar letusan dari jarak dekat. Namun, ketika erupsi mencapai puncaknya, sinyal komunikasi hilang. Hingga dini hari, upaya menghubungi telepon genggamnya tidak membuahkan hasil.
Warga Pulau Sebesi mengaku melihat cahaya lampu perahu di perairan dekat gunung sebelum hilang ditelan gelap. “Kami sempat melihat lampu bergerak, lalu tiba-tiba padam. Setelah itu hanya suara gemuruh dan abu pekat,” kata Rohman, tokoh masyarakat setempat. Nelayan yang berada di sekitar lokasi juga mengaku mendengar teriakan minta tolong, namun sulit memastikan arah suara karena kondisi gelap dan tertutup abu.
BPBD Lampung Selatan segera mengerahkan tim pencarian. Kapal patroli dikerahkan menyisir perairan sekitar Anak Krakatau. Namun, jarak pandang terbatas akibat hujan abu dan gelombang tinggi menyulitkan pencarian. Hingga pagi, keberadaan jurnalis tersebut belum diketahui. Redaksi tempat ia bekerja mengeluarkan pernyataan resmi, meminta doa dan dukungan agar tim pencari segera menemukan jejaknya.
PVMBG menegaskan bahwa radius lima kilometer dari kawah harus steril dari aktivitas manusia. “Kami sudah mengimbau agar tidak ada yang mendekat. Kondisi sangat berbahaya, erupsi bisa terjadi berulang,” ujar Kepala PVMBG. Namun, semangat liputan langsung sering membuat jurnalis mengambil risiko besar demi menyajikan berita.
Kehilangan kontak ini menambah dramatis suasana erupsi. Di posko pengungsian Kalianda, warga membicarakan nasib sang jurnalis. Sebagian mengenalnya sebagai sosok yang kerap hadir meliput aktivitas Merapi, Semeru, hingga banjir bandang di Sumatera. “Dia selalu ada di garis depan bencana. Kami berharap dia selamat,” kata Siti Aminah, pengungsi yang pernah diwawancarai olehnya.
Sejarah mencatat, Anak Krakatau lahir dari sisa letusan dahsyat Krakatau 1883. Sejak muncul ke permukaan pada 1929, gunung ini terus tumbuh dan aktif. Letusan 2026 menjadi salah satu episode terkuat, dengan durasi tremor panjang dan semburan lava pijar yang terlihat hingga puluhan kilometer. Kehilangan seorang jurnalis di tengah peristiwa ini menambah catatan kelam, sekaligus menunjukkan betapa besar risiko liputan bencana.
Hingga berita ini diturunkan, tim pencarian masih berusaha menembus abu dan gelombang. Harapan tetap ada, meski waktu terus berjalan. Dunia pers menunggu kabar, masyarakat berdoa, dan Anak Krakatau terus mengingatkan bahwa di balik keindahan alam, tersimpan ancaman yang bisa merenggut siapa saja.

