Gunung Anak Krakatau Meletus, Dentuman Keras Guncang Selat Sunda

Lampung, 4 September 2026 – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Jumat malam pukul 23.07 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi menerus disertai dentuman keras dan semburan lava pijar menyerupai lava fountain. Kolom abu vulkanik membumbung hingga ribuan meter di atas kawah, sementara cahaya merah dari semburan lava terlihat jelas dari pesisir Banten dan Lampung. Getaran kecil dirasakan warga Pulau Sebesi, Kalianda, dan Anyer.

Suasana malam yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Nelayan yang baru saja menurunkan jaring di pesisir Kalianda terkejut mendengar suara ledakan dari arah gunung. Warga Pulau Sebesi yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Anak Krakatau berhamburan keluar rumah. Anak-anak menangis ketakutan, sementara orang dewasa berusaha menenangkan mereka. Abu tipis mulai turun, menutupi atap rumah dan jalanan desa.

Sejumlah saksi mata menggambarkan letusan itu sebagai peristiwa yang luar biasa. “Langit mendadak merah, suara gemuruh terdengar seperti ledakan besar. Kami langsung keluar rumah,” ujar Rohman, warga Desa Tejang Pulau Sebesi. Sutrisno, seorang nelayan, mengatakan bahwa cahaya dari kawah menyerupai kembang api raksasa. “Kami kira ada petir besar, tapi ternyata suara dari gunung. Langit langsung merah, seperti pesta api di langit,” katanya.

PVMBG segera menaikkan status gunung menjadi Siaga (Level III). Masyarakat diminta menjauhi radius lima kilometer dari kawah. Nelayan di sekitar Selat Sunda diimbau menunda aktivitas melaut hingga kondisi dinyatakan aman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Selatan menyiapkan posko evakuasi, sementara kapal patroli dikerahkan untuk memantau perairan sekitar gunung. Bandara Radin Inten II sempat menunda penerbangan akibat jarak pandang terbatas.

Menurut pakar vulkanologi Universitas Gadjah Mada, letusan kali ini dipicu akumulasi tekanan gas di kantong magma dangkal. Aktivitas tremor terekam tinggi sejak sore hari, namun puncaknya terjadi pada pukul 23.07 WIB. Fenomena lava fountain menunjukkan adanya magma segar yang kaya gas. Hal ini berpotensi memicu erupsi berulang dalam beberapa hari. “Gunung Anak Krakatau memiliki siklus erupsi relatif singkat. Letusan kali ini termasuk besar, dengan durasi tremor mencapai beberapa jam,” jelas Dr. Andi Prasetyo, ahli vulkanologi.

Letusan awal langsung berdampak pada aktivitas masyarakat. Nelayan kehilangan mata pencaharian sementara. Wisata di sekitar Anyer dan Kalianda ditutup. Hujan abu tipis membuat warga harus menggunakan masker. Sekolah di beberapa kecamatan diliburkan. Sektor pariwisata merugi, terutama hotel dan penginapan di pesisir Banten dan Lampung. Namun, di sisi lain, letusan ini menarik perhatian media internasional, menjadikan Anak Krakatau sorotan dunia.

Gunung Anak Krakatau lahir dari sisa letusan dahsyat Krakatau tahun 1883 yang menewaskan lebih dari 36.000 orang. Sejak muncul ke permukaan pada 1929, gunung ini terus tumbuh dan aktif. Letusan 2026 menjadi salah satu episode terkuat dalam beberapa tahun terakhir, menandai bahwa Anak Krakatau tetap menjadi ancaman nyata bagi masyarakat sekitar Selat Sunda.

Di posko pengungsian Kalianda, anak-anak bermain meski wajah mereka masih terlihat cemas. Relawan membagikan makanan dan masker. Seorang ibu, Siti Aminah, bercerita bagaimana ia harus menggendong bayinya sambil berlari keluar rumah ketika dentuman terdengar. “Saya hanya ingat suara keras dan cahaya merah. Kami langsung lari tanpa sempat membawa apa-apa,” katanya. Kisah-kisah ini menunjukkan sisi kemanusiaan di balik bencana alam.

Letusan awal Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB menjadi pengingat bahwa hidup di sekitar gunung api aktif menuntut kewaspadaan tinggi. Meski ancaman selalu ada, semangat gotong royong warga, kesiapan pemerintah, dan dukungan relawan menjadi benteng utama menghadapi bencana.

Scroll to Top