31 Agustus 2026 – Samarinda dan Pontianak sejak akhir pekan lalu kembali diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Warga mulai mengeluhkan gangguan pernapasan, batuk, hingga iritasi mata. Rumah sakit di kedua kota melaporkan lonjakan pasien dengan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Di Samarinda, jarak pandang menurun drastis hingga hanya 200 meter pada pagi hari. Sementara di Pontianak, aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah terpaksa diliburkan. “Asapnya masuk ke rumah meski pintu ditutup rapat. Anak saya batuk terus,” kata Rina, warga Pontianak.
Data Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat lebih dari 2.300 warga Samarinda melaporkan keluhan ISPA. Di Pontianak, RSUD Soedarso menerima puluhan pasien anak setiap harinya. Dokter menyebut kondisi ini berbahaya bila tidak segera ditangani, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
BNPB mengerahkan helikopter water bombing di Kalimantan Barat. Pemprov Kalimantan Timur membuka posko kesehatan darurat di Samarinda, sementara Pemprov Kalimantan Barat membagikan masker gratis di Pontianak. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan penanganan karhutla dengan tambahan anggaran Rp 1,5 triliun.
Dampak Sosial & Ekonomi:
- Transportasi: penerbangan di Bandara APT Pranoto Samarinda sempat terganggu.
- Ekonomi lokal: pedagang pasar mengeluh sepi pembeli.
- Pendidikan: sekolah diliburkan, pembelajaran daring kembali diterapkan.
- Pariwisata: destinasi wisata di Pontianak seperti Tugu Khatulistiwa sepi pengunjung.
“Masker habis di apotek, harga melonjak. Pemerintah harus cepat turun tangan,” ujar Siti, pedagang di Pontianak.
“Kami sudah terbiasa dengan asap tiap tahun, tapi kali ini lebih parah. Anak-anak jadi korban,” kata Junaidi, warga Samarinda.
Kasus kabut asap bukan hal baru. Pada 2015 dan 2019, Kalimantan dan Sumatra juga mengalami krisis serupa. Ribuan warga terkena ISPA, penerbangan lumpuh, bahkan asap menyeberang hingga ke Malaysia dan Singapura. Tahun ini, pola yang sama kembali terulang, menandakan belum adanya solusi permanen.
Kabut asap di Samarinda dan Pontianak bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan krisis kesehatan masyarakat. Pemerintah dituntut untuk tidak hanya memadamkan api, tetapi juga mencari solusi jangka panjang: penegakan hukum terhadap pembakar lahan, rehabilitasi gambut, serta sistem peringatan dini yang lebih efektif.

