GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia setelah keputusan MSCI mengeluarkan saham perusahaan teknologi tersebut dari daftar Global Standard Index yang berlaku efektif mulai 1 September 2026. Keputusan ini langsung menekan harga saham GOTO di Bursa Efek Indonesia, dengan aksi jual besar-besaran dari investor asing yang sebelumnya menjadikan indeks MSCI sebagai acuan portofolio. Peristiwa ini menandai babak baru bagi GOTO, sekaligus menjadi ujian berat bagi keberlangsungan perusahaan teknologi terbesar di Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Keputusan MSCI dianggap sebagai pukulan telak karena indeks global tersebut menjadi rujukan utama bagi investor institusi internasional. Dengan keluarnya GOTO dari daftar, otomatis banyak dana asing yang harus melakukan rebalancing portofolio, sehingga terjadi aksi jual masif. Data perdagangan menunjukkan nilai net sell asing terhadap saham GOTO mencapai ratusan miliar rupiah hanya dalam beberapa hari menjelang akhir Agustus 2026. Kondisi ini membuat harga saham GOTO tertekan hingga menyentuh level terendah sejak awal tahun, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor ritel.
Meski demikian, manajemen GOTO berusaha menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa fundamental perusahaan tetap kuat. Laporan keuangan semester I-2026 menunjukkan peningkatan pendapatan dari layanan e-commerce dan ride-hailing, serta efisiensi biaya operasional melalui integrasi sistem teknologi. GOTO juga menekankan komitmen untuk mencapai profitabilitas berkelanjutan pada 2027, dengan strategi memperluas layanan keuangan digital melalui GoPay dan memperkuat ekosistem logistik. Namun, bagi investor, keluarnya GOTO dari MSCI tetap menjadi sinyal negatif yang sulit diabaikan.
Analis pasar menilai keputusan MSCI tidak semata-mata karena kinerja keuangan, melainkan juga faktor likuiditas dan kapitalisasi pasar. Saham GOTO mengalami penurunan kapitalisasi signifikan sejak IPO pada 2022, sehingga tidak lagi memenuhi kriteria indeks global. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk bersaing di level internasional. Beberapa analis bahkan menyebut kasus GOTO sebagai pelajaran penting bagi perusahaan teknologi lain yang berambisi masuk ke indeks global: keberlanjutan kinerja dan konsistensi pertumbuhan menjadi faktor utama.
Dari sisi teknikal, grafik saham GOTO menunjukkan tren bearish dengan support di level Rp80 per saham dan resistance di Rp120. Jika tekanan jual berlanjut, harga bisa turun lebih dalam, meski ada peluang rebound jangka pendek jika manajemen mampu memberikan sentimen positif. Investor ritel di forum daring banyak mengeluhkan kerugian, namun sebagian masih optimistis bahwa GOTO akan bangkit dengan strategi digitalisasi dan ekspansi regional. Perdebatan ini mencerminkan polarisasi pandangan terhadap masa depan GOTO.
Keputusan MSCI juga berdampak pada persepsi global terhadap pasar modal Indonesia. Banyak pihak khawatir keluarnya GOTO akan mengurangi daya tarik saham teknologi Indonesia di mata investor asing. Namun, ada juga yang melihatnya sebagai momentum bagi perusahaan lain untuk memperkuat fundamental agar bisa masuk ke indeks global. Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan akan terus mendukung perusahaan teknologi nasional, termasuk dengan kebijakan yang mendorong inovasi dan inklusi keuangan digital.

