Sosialisasi Empat Pilar MPR RI: Dari Sejarah Pancasila hingga Peran GENERASI MUDA

Yogyakarta, 27 Agustus 2026 – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) kembali menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Wisma Kagama Komplek UGM, Kota Yogyakarta. Acara yang berlangsung pukul 09.00–13.45 WIB ini menghadirkan Wakil Ketua MPR RI Ir. Bambang Wuryanto, MBA sebagai narasumber utama.

Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Cabang Yogyakarta, yang terdiri dari perwakilan siswa-siswi SMA/SMK di Kota Yogyakarta. Kehadiran mereka menegaskan komitmen generasi muda untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan nyata.

Dalam pemaparan, Ir. Bambang Wuryanto, MBA menekankan pentingnya memahami sejarah lahirnya Pancasila versi Bung Karno 1 Juni 1945. Bung Karno saat itu mengusulkan lima dasar negara:

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan yang Berkebudayaan

Bung Karno bahkan menyarankan agar kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Tri Sila (Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan), hingga menjadi Eka Sila: Gotong Royong sebagai inti Pancasila.

Perjalanan sejarah kemudian berlanjut dengan lahirnya Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945 melalui Panitia Sembilan, yang merumuskan Pancasila dengan sila pertama berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Namun, sehari setelah Proklamasi, pada 18 Agustus 1945, rumusan tersebut disepakati untuk diubah menjadi lebih inklusif. Sejak saat itu, Pancasila final yang berlaku hingga kini adalah:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Menurut Ir. Bambang Wuryanto, MBA, memahami proses lahirnya Pancasila sangat penting bagi generasi muda. “Pancasila bukan sekadar teks, melainkan hasil perjuangan, kompromi, dan semangat persatuan. Implementasi nyatanya harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Para siswa SMA/SMK pun diajak untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila di sekolah, antara lain dengan menghargai perbedaan agama dan budaya teman, aktif bermusyawarah dalam OSIS, serta menjalankan kegiatan sosial untuk mewujudkan keadilan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menegaskan kembali bahwa Pancasila adalah dasar negara yang inklusif dan universal, sekaligus pedoman hidup bangsa Indonesia.

Scroll to Top