Presiden Prabowo mengajukan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI ke DPR

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah penting dalam menjaga kesinambungan kebijakan moneter nasional. Pada Senin, 10 Agustus 2026, ia mengajukan nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) melalui Surat Presiden yang diserahkan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR RI.

Narasi politik dan ekonomi ini menjadi sorotan karena Destry saat ini menjabat sebagai Penjabat Sementara Gubernur BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo pada Juli lalu. Dengan pengajuan resmi ini, Prabowo menegaskan keyakinannya bahwa Destry adalah sosok yang tepat untuk memimpin bank sentral di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Destry bukanlah nama baru dalam dunia keuangan Indonesia. Lahir di Jakarta tahun 1963, ia menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia dan melanjutkan studi master di Cornell University, Amerika Serikat. Kariernya panjang dan berlapis: mulai dari akademisi, ekonom di sektor swasta, hingga pejabat di lembaga keuangan negara. Ia pernah menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Kepala Ekonom Bank Mandiri, anggota Dewan Komisioner LPS, dan sejak 2019 menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI.

Langkah Presiden Prabowo mengajukan satu nama tunggal dinilai sebagai strategi politik yang cerdas. Dengan cara ini, ia menghindari tarik-menarik kepentingan di DPR dan sekaligus menunjukkan dukungan penuh terhadap Destry. DPR melalui Komisi XI akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan, namun banyak pihak memperkirakan dukungan politik akan mengalir deras mengingat rekam jejak Destry yang panjang dan kredibel.

Di sisi lain, pasar keuangan menunggu kepastian. Penunjukan gubernur BI selalu menjadi momen krusial karena menyangkut kredibilitas kebijakan moneter, stabilitas rupiah, dan kepercayaan investor. Tantangan yang menanti Destry tidak ringan: menjaga inflasi tetap terkendali, memastikan koordinasi dengan kebijakan fiskal pemerintah, serta menghadapi ketidakpastian global seperti fluktuasi suku bunga dunia dan gejolak geopolitik.

Narasi ini juga memperlihatkan bagaimana politik dan ekonomi saling bertaut. Di satu sisi, keputusan Presiden adalah langkah politik yang memperkuat posisinya di mata DPR dan publik. Di sisi lain, dampaknya langsung terasa pada ekonomi nasional, terutama dalam menjaga momentum pertumbuhan yang saat ini sedang positif dengan penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.

Dengan segala pengalaman dan kapasitas yang dimiliki, Destry Damayanti dipandang sebagai figur yang mampu melanjutkan kebijakan moneter yang stabil sekaligus adaptif terhadap tantangan zaman. Jika DPR menyetujui, ia akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Gubernur BI, sebuah tonggak sejarah baru bagi lembaga keuangan tertinggi di Indonesia.

Scroll to Top