IHSG Tertekan, Rupiah Melemah, BBM Melonjak: Pasar Indonesia di Bawah Tekanan

Jakarta – Pasar modal Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Senin (22/6). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah ke level 6.133, turun 0,71 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Tekanan juga terlihat pada LQ45 yang merosot 0,85 persen ke posisi 604.

Pelemahan ini tidak lepas dari derasnya outflow asing yang mencapai Rp4,5 triliun, menekan sentimen investor domestik. Kondisi pasar semakin diperburuk oleh melemahnya rupiah ke level Rp17.813 per dolar AS, seiring tren pelemahan mayoritas mata uang Asia.

Di sektor energi, masyarakat menghadapi kenaikan tajam harga BBM nonsubsidi. Pertamax kini dijual Rp16.250 per liter, naik signifikan dari Rp12.300. Pertamax Green 95 menyentuh Rp17.000, sementara Pertamax Turbo menembus Rp20.750 per liter. Adapun BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Sementara itu, harga emas relatif stabil di tengah gejolak pasar. Antam 1 gram tercatat Rp2.668.000, dengan buyback Rp2.401.000. Produk Galeri 24 dan UBS juga bergerak tipis di kisaran Rp2.649.000–Rp2.662.000 per gram. Investor kembali menjadikan emas sebagai aset lindung nilai menghadapi pelemahan rupiah dan tekanan pasar saham.

Secara global, harga minyak mentah WTI turun tipis ke USD 75,42 per barel, sementara emas dunia rebound 1,23 persen ke USD 2.412 per ons. Perak dan CPO juga mencatat kenaikan, memberi harapan bagi eksportir Indonesia.

Kesimpulannya, hari ini pasar diwarnai oleh kombinasi tekanan eksternal dan kebijakan harga energi domestik. IHSG dan LQ45 melemah, rupiah tertekan, outflow asing besar, harga BBM nonsubsidi melonjak, sementara emas tetap menjadi pilihan aman bagi investor.

Scroll to Top