Beijing, 15 Mei 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan kunjungan resmi ke China dan menggelar pertemuan penting dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, Kamis–Jumat (14–15/5/2026).
Pertemuan tersebut menjadi sorotan dunia karena berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, mulai dari perang dagang AS–China, isu Taiwan, konflik Iran, hingga persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pemerintah China menyambut Trump dengan upacara kenegaraan di Great Hall of the People, Beijing. Dalam pertemuan bilateral, kedua pemimpin menegaskan pentingnya menjaga stabilitas hubungan antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut.
Xi Jinping menyebut hubungan China dan Amerika Serikat memasuki fase baru yang ia gambarkan sebagai “constructive strategic stability” atau stabilitas strategis yang konstruktif. Sementara Trump mengatakan hubungan pribadinya dengan Xi tetap “sangat kuat” meskipun kedua negara masih memiliki banyak perbedaan.
Bahas Pengurangan Tarif
Salah satu agenda utama pembicaraan adalah perang dagang yang selama beberapa tahun terakhir memengaruhi ekonomi global.
Trump dan Xi dilaporkan membahas kemungkinan pengurangan tarif impor terhadap sejumlah produk senilai sekitar US$30 miliar. Pemerintah AS mendorong peningkatan ekspor pertanian dan manufaktur Amerika ke China, sedangkan Beijing meminta pelonggaran pembatasan perdagangan dan teknologi dari Washington.
Trump mengklaim China siap membeli produk pertanian Amerika dalam jumlah besar, termasuk kedelai dan energi. Ia juga mengatakan Beijing berpotensi membeli hingga 200 pesawat Boeing, bahkan dapat meningkat menjadi 750 unit dalam beberapa tahun mendatang.
Namun hingga akhir kunjungan, belum ada kesepakatan dagang besar yang diumumkan secara resmi.
Taiwan Jadi Isu Sensitif
Isu Taiwan turut menjadi pembahasan paling sensitif dalam pertemuan tersebut.
Xi Jinping menegaskan Taiwan merupakan “garis merah” bagi pemerintah China dan meminta AS tidak meningkatkan dukungan militer kepada Taipei. Trump sendiri tidak memberikan jawaban tegas terkait kemungkinan bantuan senjata baru untuk Taiwan.
Pengamat menilai Washington berusaha mempertahankan strategi ambigu terhadap Taiwan demi menjaga keseimbangan hubungan dengan Beijing tanpa kehilangan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.
Konflik Iran dan Harga Minyak
Selain isu perdagangan dan keamanan kawasan Asia, Trump dan Xi juga membahas konflik Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Trump meminta China membantu menjaga stabilitas jalur energi internasional, khususnya di Selat Hormuz. China menyatakan mendukung stabilitas kawasan, namun menolak pendekatan militer yang dianggap dapat memperburuk konflik.
Trump juga mengungkapkan pemerintahannya tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap beberapa perusahaan kilang minyak China yang membeli minyak Iran.
Persaingan AI
Persaingan teknologi kecerdasan buatan atau AI menjadi isu baru yang ikut mendominasi pembicaraan kedua pemimpin.
Trump menyatakan Amerika Serikat saat ini unggul dalam pengembangan AI dan menyebut Xi Jinping “terkejut” dengan kemajuan teknologi AS. Meski demikian, kedua negara belum mencapai kesepakatan terkait regulasi AI maupun pembatasan ekspor chip semikonduktor.
Minim Terobosan Besar
Meski dipenuhi seremoni diplomatik dan menjadi perhatian internasional, sejumlah analis menilai kunjungan Trump ke China lebih bersifat simbolis dibanding menghasilkan terobosan konkret.
Hingga kunjungan berakhir, belum ada solusi besar terkait perang dagang, Taiwan, maupun konflik Iran. Investor global juga menilai hasil pertemuan masih terlalu umum sehingga pasar saham AS sempat mengalami tekanan.
Meski demikian, pertemuan Trump dan Xi dianggap penting untuk menjaga komunikasi strategis antara Washington dan Beijing di tengah situasi dunia yang semakin tidak stabil.

