Venezuela Pasca Maduro: Bayang-Bayang Ketakutan yang Tak Hilang

Penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat dan pemindahannya ke New York semestinya menjadi titik balik bagi rakyat Venezuela. Namun, meski sang mantan presiden kini ribuan kilometer jauhnya, rasa takut masih mencengkeram kehidupan sehari-hari warga.

Mesin Penindas yang Masih Hidup
Alih-alih merayakan pergantian kekuasaan, banyak warga memilih diam. “Mesin penindas” yang dibangun rezim lama dianggap tetap beroperasi di bawah pemerintahan baru. Menurut laporan Al Jazeera (8/1/2026), struktur kekuasaan Maduro nyaris tak berubah setelah Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai penjabat presiden dengan restu Presiden AS Donald Trump.
Rodriguez bukan sosok asing bagi rakyat. Ia pernah memimpin SEBIN, badan intelijen yang dikenal represif, sehingga kehadirannya menimbulkan kewaspadaan mendalam.

Penangkapan Warga yang Merayakan. Ketakutan itu semakin nyata ketika aparat keamanan menangkap sedikitnya empat orang hanya karena merayakan penangkapan Maduro atau menyindirnya. Di Merida, dua warga ditahan dengan tuduhan “merayakan penculikan Presiden”. Di Carabobo, dua lainnya dijerat pasal “hasutan kebencian dan pengkhianatan”. Langkah keras ini mengikuti dekrit keadaan darurat yang memberi kewenangan penuh kepada aparat untuk menindak siapa pun yang dianggap mendukung serangan bersenjata AS. Efeknya: masyarakat diliputi rasa gentar, memilih bungkam daripada berisiko.

Suara dari Jalanan Caracas. “Ketakutannya adalah mereka bisa memenjarakan Anda tanpa alasan, menuntut, dan mendakwa dengan apa pun yang mereka mau,” kata Mario, warga Caracas.
Ia kini menghindari jalan utama agar tak berhadapan dengan pos pemeriksaan atau kelompok paramiliter pro-pemerintah (colectivos). Bahkan, ia menghapus video di ponselnya yang bisa dianggap provokatif.

Penunjukan Kontroversial. Kecemasan publik semakin memuncak setelah Rodriguez menunjuk Gustavo Enrique Gonzalez Lopez, mantan direktur SEBIN yang pernah dituduh melakukan penyiksaan oleh PBB, sebagai kepala baru Direktorat Jenderal Kontra-Intelijen Militer (DGCIM).
Menurut Laura Cristina Dib, Direktur Washington Office on Latin America (WOLA), langkah ini adalah “pertanda buruk” bagi masa depan hak asasi manusia di Venezuela.

Trauma yang Tak Hilang. Bayang-bayang penumpasan protes pasca-pemilu 2024 masih menghantui. “Sangat mengerikan bahwa Anda bisa ditangkap hanya karena memiliki meme tentang Maduro di ponsel,” ungkap Viviana, penjual bunga berusia 31 tahun.
Akibatnya, banyak warga memilih melakukan penyensoran mandiri: menghindari pembicaraan politik di ruang publik, menahan ekspresi, dan menutup rapat opini pribadi. Meski Maduro telah dibawa jauh dari tanah airnya, Venezuela belum benar-benar bebas. Struktur lama tetap bercokol, aparat masih menebar ketakutan, dan rakyat memilih diam. Pergantian kekuasaan yang diharapkan membawa harapan, justru meninggalkan bayang-bayang trauma dan kecemasan yang semakin dalam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top