Jakarta, 22 Agustus 2026 – Harga emas kembali melambung tinggi, mencatatkan rekor baru di pasar domestik maupun internasional. Emas batangan Antam kini dijual di kisaran Rp2.740.000–Rp2.766.000 per gram, naik signifikan dibanding pekan sebelumnya yang masih berada di level Rp2.675.000. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan harga emas dunia yang menembus US$4.607 per ons, tertinggi sejak pertengahan Mei 2026.
Kenaikan harga emas terjadi secara bertahap sepanjang pekan ketiga Agustus. Pada 15 Agustus, harga emas Antam masih berada di Rp2.675.000 per gram. Lima hari kemudian, tepatnya 20 Agustus, harga melonjak Rp80.000 menjadi Rp2.725.000 per gram. Puncaknya terjadi pada 22 Agustus, ketika harga emas di outlet Logam Mulia dan Pegadaian mencapai Rp2.740.000–Rp2.766.000 per gram. Harga buyback juga ikut naik ke level Rp2.585.000–Rp2.600.000 per gram, memberi keuntungan lebih bagi pemilik emas yang ingin menjual kembali.
Lonjakan harga emas ini dipicu oleh beberapa faktor global. Departemen Keuangan Amerika Serikat melakukan pembelian kembali obligasi jangka panjang, menekan yield obligasi dan melemahkan dolar AS. Kondisi tersebut membuat emas kembali diminati sebagai aset lindung nilai. Kekhawatiran fiskal global, ketidakpastian ekonomi, serta gejolak geopolitik turut mendorong investor beralih ke emas.
Di pasar internasional, harga emas dunia melonjak ke US$4.607,35 per ons. Angka ini menjadi level tertinggi sejak Mei 2026, menandakan tren bullish yang kuat. Para analis menilai bahwa emas akan tetap menjadi primadona investasi hingga akhir tahun, terutama jika bank sentral global mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.
Di dalam negeri, dampak kenaikan harga emas terasa hingga ke masyarakat kecil. Pedagang perhiasan di Pasar Cikini mengaku penjualan menurun karena harga terlalu tinggi. “Orang lebih banyak datang untuk menjual daripada membeli. Mereka ingin ambil untung dari kenaikan harga,” kata seorang pedagang. Sebaliknya, investor emas batangan justru gembira. “Ini saat yang tepat untuk menjual sebagian, karena harga buyback naik tinggi,” ujar seorang investor di Jakarta.
Pakar ekonomi menilai kenaikan harga emas mencerminkan ketidakpastian global. “Emas selalu menjadi safe haven. Ketika pasar saham bergejolak dan obligasi tidak menarik, emas menjadi pilihan utama. Lonjakan kali ini menunjukkan bahwa investor global sedang mencari perlindungan,” kata seorang analis dari Universitas Indonesia.
Kenaikan harga emas juga memicu diskusi di kalangan masyarakat. Sebagian melihatnya sebagai peluang investasi jangka panjang, sementara sebagian lain khawatir harga akan turun kembali. Di media sosial, topik “emas Rp2,7 juta” menjadi trending, dengan banyak pengguna berbagi pengalaman menjual emas di Pegadaian atau membeli emas digital melalui aplikasi.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam bertransaksi. “Pastikan membeli emas di outlet resmi, jangan tergiur harga murah di luar pasar. Lonjakan harga emas juga memicu maraknya penipuan,” ujar seorang pejabat kementerian.
Liputan panjang ini menunjukkan bahwa kenaikan harga emas bukan sekadar angka di pasar, tetapi juga fenomena sosial. Dari ruang perdagangan internasional hingga kios kecil di pasar tradisional, dari investor besar hingga ibu rumah tangga yang menabung emas, semua merasakan dampak lonjakan harga.

