Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Getaran kuat itu berlangsung beberapa detik dan dirasakan hingga ke Kupang, Maumere, Ende, bahkan sebagian wilayah Sulawesi Selatan. Warga berhamburan keluar rumah, sebagian masih mengenakan pakaian seadanya, mencari tempat aman di jalan-jalan dan lapangan terbuka.
Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan BMKG, membuat kepanikan semakin meluas. Sirene berbunyi di beberapa titik pesisir, warga berlari ke arah dataran tinggi. Namun sekitar pukul 07.30 WIB, peringatan itu dicabut setelah tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan. Meski begitu, trauma tetap menyelimuti masyarakat.
Hingga 19 Agustus, BNPB mencatat 71 orang meninggal dunia, ratusan luka-luka, dan lebih dari 59 ribu warga mengungsi. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi wilayah dengan korban terbanyak. Ribuan rumah rusak, dinding retak, atap roboh, dan fasilitas umum seperti sekolah serta kantor pemerintahan ikut terdampak. Jalan-jalan di beberapa daerah tertutup longsor, membuat distribusi bantuan terhambat.
Gempa susulan terus terjadi. BMKG melaporkan lebih dari 4.200 kali gempa susulan hingga 21 Agustus, dengan beberapa guncangan signifikan berkekuatan M5,6 hingga M5,8. Getaran susulan ini kembali merusak bangunan dan memicu longsor di lereng-lereng perbukitan. Warga memilih bertahan di tenda pengungsian, tidur di luar rumah, dan menyalakan api unggun kecil untuk mengusir dingin.
Di tengah kepanikan, solidaritas warga terlihat kuat. Mereka saling berbagi makanan, air minum, dan selimut. Relawan bersama aparat TNI dan Polri bekerja keras mengevakuasi korban, mendirikan posko darurat, dan menyalurkan bantuan logistik. Pemerintah pusat menegaskan akan segera mengirim tambahan tenaga medis dan bahan pangan. Presiden Prabowo Subianto bahkan mengajak seluruh bangsa mendoakan korban gempa saat upacara HUT RI ke-81.
Kepala BMKG menegaskan bahwa gempa ini dipicu aktivitas sesar Flores Back-Arc Thrust dengan kedalaman 15 km. Meski tidak menimbulkan tsunami besar, potensi gempa susulan masih tinggi. “Kami imbau masyarakat tetap waspada, tidak mudah percaya informasi yang tidak resmi, dan mengikuti arahan aparat setempat,” ujarnya.
Bagi warga NTT, malam itu akan selalu dikenang sebagai malam penuh ketakutan. Bumi berguncang, rumah-rumah roboh, dan ribuan orang harus berlari menyelamatkan diri. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rawannya wilayah timur Nusantara terhadap gempa bumi, sekaligus ujian bagi kesiapan pemerintah dalam melindungi rakyatnya dari bencana alam.

