Jeddah, 10 Agustus 2026 — Dunia internasional diguncang oleh langkah bersejarah yang diambil tiga negara besar dengan mayoritas Muslim. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan resmi menandatangani kesepakatan pertahanan bersama dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Jeddah.
Penandatanganan ini dilakukan oleh Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman, Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler, dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Asim Munir. Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama militer terpadu, koordinasi intelijen, serta komitmen pertahanan kolektif.
Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menegaskan bahwa serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh blok. Mereka juga sepakat membentuk pusat intelijen gabungan di Riyadh serta konsorsium industri pertahanan untuk mengembangkan teknologi militer, termasuk pesawat tempur generasi baru.
Langkah ini muncul di tengah ketegangan geopolitik kawasan. Pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap Iran, konflik di Yaman, serta rivalitas antara blok Barat dan Timur menjadi latar yang mendorong terbentuknya aliansi baru ini. Turki, yang masih anggota NATO, menimbulkan dilema baru bagi Barat karena kini memperkuat poros Islam bersama Riyadh dan Islamabad.
Reaksi internasional pun beragam. Amerika Serikat menyatakan keprihatinan atas terbentuknya blok militer baru yang berpotensi mengganggu keseimbangan kekuatan. Iran menyebut langkah ini sebagai provokasi, sementara Rusia dan China menyambut positif dengan melihat peluang kerja sama strategis.
Bagi Arab Saudi, kesepakatan ini memperkuat posisinya sebagai pemimpin dunia Islam. Turki melihatnya sebagai langkah memperluas pengaruh neo-Ottoman, sedangkan Pakistan memperoleh dukungan finansial dan teknologi untuk memperkuat militernya menghadapi tantangan regional.
Latihan gabungan pertama dijadwalkan berlangsung di Laut Merah pada akhir 2026, sementara konsorsium industri pertahanan akan mulai beroperasi pada 2027. Kesepakatan Jeddah ini dipandang sebagai tonggak sejarah baru dalam geopolitik dunia Islam, yang berpotensi mengubah peta kekuatan global.

